Cari Blog Ini

Kamis, 03 Juli 2014

Tugas Ilmu Budaya Dasar



 Tari Yapong

Kata Pengantar
 Setiap  jenis  kesenian  tidak dapat dilepaskan dari masyarakat pendukungnya. Demikian juga dengan seni tari tradisional Betawi yang merupakan wahana eskpresi seni dari masyarakat sesuai dengan tempat ia berasal, yaitu masyarakat Betawi. Sebagai suatu bentuk ekspresi seni, tarian tradisional Betawi memiliki arti penting karena merupakan sarana bagi masyarakat pendukungnya untuk mengekspresikan diri di hadapan masyarakat. Seni tari tradisional Betawi, sebagaimana seni tari dari suku-suku lainnya di Indonesia, merupakan bagian dari suatu sistem representasi sekaligus suatu bentuk aksi. Keanekaragaman yang terdapat di dalam seni tari tradisional Betawi menunjukkan bahwa masyarakat pendukungnya adalah masyarakat yang kaya dengan aspirasi seni sesuai dengan asal-usul mereka yang pada mulanya ialah orang-orang yang datang dari berbagai penjuru nusantara dan Asia.
Masyarakat Betawi yang berasal dari berbagai etnis menyebabkan ekspresi seni yang dihasilkannya, termasuk di dalamnya seni tari, menjadi sangat kaya. Hubungan interkultural yang terjadi di Batavia merupakan akar dari seni tari tradisional Betawi yang dapat kita jumpai saat ini. Kekayaan ekspresi dari seni tari tradisional Betawi adalah hasil dari saling interaksi berbagai kebudayaan yang terdiri atas budaya Nusantara dan unsur-unsur dari luar yang saling berinteraksi dan menghasilkan sesuatu yang baru. Seni tari yang dihasilkan dari interaksi antarbudaya dalam masyarakat Betawi mendorong munculnya suatu rasa identitas komunal yang memperkuat karakteristik masyarakat Betawi sebagai suatu masyarakat yang memiliki budaya tersendiri.
Pada awalnya, tari Yapong dipertunjukkan dalam rangka mempersiapkan acara ulang tahun kota Jakarta ke-450 pada tahun 1977. Pada saat itu, Dinas Kebudayaan DKI mempersiapkan sebuah acara pagelaran tari massal dengan mengangkat cerita perjuangan Pangeran Jayakarta. Pagelaran berbentuk sendratari ini dipercayakan kepada Bagong Kussudiarjo untuk menyelenggarakan acara tersebut. Untuk mempersiapkan pagelaran itu, Bagong mengadakan penelitian selama beberapa bulan mengenai kehidupan masyarakat Betawi. Bagong melakukan penelitian tersebut melalui perpustakaan, film, slide maupun observasi langsung kepada masyarakat Betawi. Akhirnya, pagelaran ini berhasil dipentaskan pada tanggal 20 dan 21 Juni 1977 bertempat di Balai Sidang Senayan, Jakarta. Pementasan tersebut didukung oleh 300 orang artis dan musikus yang ikut andil di dalamnya.

Filosofi Tari Yapong
Satu jenis tarian tradisional yang diciptakan untuk pertunjukan yapong  bukan tari pergaulan seperti Jaipongan, yang berasal dari Jawa Barat, namun kemudian dalam perkembangannya kadang kala berfungsi sebagai tari pergaulan untuk mengisi acara menari sesuai permintaan karena tarian ini penuh dengan variasi.
Istilah yapong  ini lahir dari bunyi lagunya ya, ya, ya, ya, yang dinyanyikan artis pengiringnya serta suara musik yang berkesan pong, pong, pong, sehingga lahirlah "ya-pong" dan berkembang menjadi yapong. Gerak tari yapong sangat dinamis dan bertumpu pada kekuatan tangan dan kaki, perpindahan penari dari satu titik ke titik yang lain kerap terjadi. Pada bagian-bagian tertentu terdapat gerakan pinggul yang eksotis. Tari yapong sama seperti tari muda-mudi pada umumnya, yaitu tari kontemporer yang menggambarkan suasana pergaulan. Sebagai tari kontemporer, gerak pada tari yapong bisa divariasikan dengan berbagai gerak sesuai permintaan koreografer, tapi tanpa meninggalkan esensi tari itu sendiri.

Hubungan Dengan Sifat Suku
                Berfungsi sebagai tari pergaulan untuk mengisi acara menari sesuai permintaan karena tarian ini penuh dengan variasi, suatu tari gembira dengan gerakan yang dinamis.

Pakaian Atribut Yang Digunakan
Adapun corak dalam busana yang dikenakan para penarinya merupakan pengembangan dari pakaian tari Kembang Topeng Betawi. Hal tersebut tampak jelas dari bentuk serta ragam hias tutup kepala serta selempang yang dikenakan di dada, yang disebut dengan toka-toka. Tari Yapong diwarnai oleh tari rakyat Betawi, kemudian diolah dengan dimasukkannya unsur-unsur tari pop.

Analisis Hubungan dan Sifat Pakaian Atribut
                Karena budaya Betawi banyak dipengaruhi unsur-unsur budaya Tionghoa, maka dalam tarian Yapong juga terdapat unsur kesenian Tionghoa, misalnya pada kain yang dikenakan oleh para penari terdapat motif naga dengan warna merah menyala yang identik dengan budaya Tionghoa. Pengembangan pakaian tarian ini juga berasal dari tari Kembang Topeng Betawi yang terlihat jelas dari hias tutup kepala serta selempang dadanya, yang disebut toka-toka seperti masyarakat betawi yang mayoritas memeluk agama muslim

Referensi




                                      

Tugas Ilmu Budaya Dasar



 Suku Betawi

1.1          Kata Pengantar
                Manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh tuhan sebagai makhluk yang berbudaya, hal ini dapat dilihat dari perkembangan manusia yang ditandai dengan adanya peradaban-peradaban dan juga budaya yang telah terbentuk.Manusia mendiami wilayah yang berbeda, berada di lingkungan yang berbeda juga.
                Masyarakat atau Suku Betawi berasal dari hasil kawin-mawin antar etnis dan bangsa di masa lalu secara biologis. Kata Betawi digunakan untuk menyatakan suku asli yang menghuni di Jakarta dan Bahasa Melayu Kreol adalah bahasa yang digunakannya, dan juga kebudayaan melayunya adalah kebudayaanya. Kata Betawi sebenarnya berasal dari kata “Batavia”, yaitu nama kuno Jakarta diberikan oleh Belanda.
1.2          Penduduk Betawi
                Merupakan komunitas penduduk di Jawa (Pulau Nusa Jawa) yang berbahasa Melayu, dikemudian hari disebut sebagai orang Betawi. Orang Betawi ini disebut juga sebagai orang Melayu Jawa. Merupakan hasil percampuran antara orang-orang Jawa, Melayu, Bali, Bugis, Makasar, Ambon, Manado, Timor, Sunda.            
1.3          Kepercayaan
                Orang Betawi sebagian besar menganut agama Islam, tetapi yang menganut agama Kristen; Protestan dan Katholik juga ada namun hanya sedikit sekali. Di antara suku Betawi yang beragama Kristen, ada yang menyatakan bahwa mereka adalah keturunan campuran antara penduduk lokal dengan bangsa Portugis. masih ada dan menetap di daerah Kampung Tugu, Jakarta Utara.
1.4          Sistem Mata Pencaharian
                Mata pencaharian orang Betawi dapat dibedakan antara yang berdiam di tengah kota dan yang tinggal di pinggiran. Di daerah pinggiran sebagian besar adalah petani buahbuahan, petani sawah dan pemelihara ikan. Namun makin lama areal pertanian mereka makin menyempit, karena makin banyak yang dijual untuk pembangunan perumahan, industri, dan lain-lain. Akhirnya para petani ini pun mulai beralih pekerjaan menjadi buruh, pedagang, dan lain-lain.

1.5          Perilaku Dan Sifat

Ada beberapa hal yang positif dari Betawi antara lain jiwa sosial mereka sangat tinggi, walaupun kadang-kadang dalam beberapa hal terlalu berlebih dan cenderung tendensius. Orang Betawi juga sangat menjaga nilai-nilai agama yang tercermin dari ajaran orangtua (terutama yang beragama Islam), kepada anak-anaknya. Masyarakat Betawi sangat menghargai pluralisme. Hal ini terlihat dengan hubungan yang baik antara masyarakat Betawi dan pendatang dari luar Jakarta.
Orang Betawi sangat menghormati budaya yang mereka warisi. Terbukti dari perilaku kebanyakan warga yang mesih memainkan lakon atau kebudayaan yang diwariskan dari masa ke masa seperti lenong, ondel-ondel, gambang kromong, dan lain-lain.

1.6          Seni dan Kebudayaan

a)      Musik
                Dalam bidang kesenian, misalnya, orang Betawi memiliki seni Gambang Kromong yang berasal dari seni usic Tionghoa, tetapi juga ada Rebana yang berakar pada tradisi usic Arab, Keroncong Tugu dengan latar belakang Portugis-Arab, dan Tanjidor yang berlatarbelakang ke-Belanda-an. Saat ini Suku Betawi terkenal dengan seni Lenong, Gambang Kromong, Rebana Tanjidor dan Keroncong. Betawi juga memiliki lagu tradisional seperti “Kicir-kicir”.

b)      Seni Tari
                Seni tari di Jakarta merupakan perpaduan antara nsure-unsur budaya masyarakat yang ada di dalamnya. Contohnya tari Topeng Betawi, Yapong yang dipengaruhi tari Jaipong Sunda, Cokek dan lain-lain. Pada awalnya, seni tari di Jakarta memiliki pengaruh Sunda dan Tiongkok, seperti tari Yapong dengan kostum penari khas pemain Opera Beijing. Namun Jakarta dapat dinamakan daerah yang paling dinamis. Selain seni tari lama juga muncul seni tari dengan gaya dan koreografi yang dinamis.

c)      Drama
                Drama tradisional Betawi antara lain Lenong dan Tonil. Pementasan lakon tradisional ini biasanya menggambarkan kehidupan sehari-hari rakyat Betawi, dengan diselingi lagu, pantun, lawak, dan lelucon jenaka. Kadang-kadang pemeran lenong dapat berinteraksi langsung dengan penonton.






d)     Cerita Rakyat
                Cerita rakyat yang berkembang di Jakarta selain cerita rakyat yang sudah dikenal seperti Si Pitung, juga dikenal cerita rakyat lain seperti serial Jagoan Tulen atau si jampang yang mengisahkan jawara-jawara Betawi baik dalam perjuangan maupun kehidupannya yang dikenal “keras

e)      Senjata Tradisional
                Senjata khas Jakarta adalah bendo atau golok yang bersarungkan terbuat dari kayu.

f)       Makanan
                Jakarta memiliki beragam masakan khas sebagai kekayaan kuliner Indonesia. Makanan-makanan khas dari Betawi / Jakarta di antaranya adalah : kerak telor, kembang goyang, roti buaya, kue rangi

Referensi :

Referensi :
http://riantiii.blogspot.com/2012/10/makalah-suku-betawi.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Betawi#cite_note-1

                                                               





Kamis, 02 Januari 2014



Implementasi Teknologi Dan Informasi Dalam Bidang Desain Interior Dan Arsitektur Di Era Globalisasi

        Desain Interior dan arsitektur adalah disiplin ilmu yang menuntut keterlibatan estetika, ide, kreativitas dan teknologi serta informasi. Dalam era globalisasi, persaingan antar desainer dan antar arsitek salah satunya di Bali sangat ketat. Persaingan tersebut baik untuk persaingan kualitas, royalitas, dan kreativitas serta bersaing secara bebas mencari relasi untuk dijadikan tandem proyek. Pangsa pasar  para desiner dan arsitek yakni para pengguna jasa atau klien pada umumnya dari berbagai kalangan, mulai dari kalangan masyarakat lokal sampai ekspatriat. Persaingan bebas menimbulkan dampak bahwasannya para desainer dan arsitek bebas atau terbuka pada setiap Negara untuk menjadi tenaga kerja di Negara lain.Di Indonesia pada umumnya, desainer dan arsitek yang hadir dalam bentuk fisik (hadir sebagai manusia desainer atau arsitek) maupun virtual (hadir melalui komunikasi internet).
Sedangkan dalam hal kualitas, desainer dan arsitek yang baik merupakan tututan bagi karya-karya desainer dan arsitek saat ini yang berlomba untuk memperlihatkan estetika, fungsi, teknologi dan seni. Desain interior dan arsitektur dalam proses perancangannya di era globalisasi mengalami suatu perubahan yang dipengaruhi perkembangan teknologi yang salah satunya diwakili oleh komputer, dengan komputer yang disertai perangkat keras dan lunak membuat kemajuan dalam bidang perwujudan rancang desain, semakin cepat dan efesien. Diketahui komputer adalah hasil kemajuan peradaban manusia dan ditemukan melalui proses yang sangat lama. Komputer dirancang agar dapat memenuhi kebutuhan manusia untuk hidup lebih sejahtra. Komputer dirancang untuk memecahkan masalah dalam kehidupan manusia. Untuk itu desain interior dan arsitektur, seiring semakin pesatnya pembangunan yang membutuhkan perancangan, maka waktu yang dibutuhkan semakin sempit.
Berangkat dari hal tersebut penulis tertarik akan fenomena yang terjadi di era globalisai ini yakni, bagaimana implementasi teknologi dan informasi pada bidang desain interior dan arsitektur di era Globalisasi?. Masalah penulisan ini dibatasi pada teknologi dan informasi dewasa ini yang mempengaruhi perancangan desain interior dan arsitektur. Tujuan penulisan ini adalah; secara umum memahami hal-hal yang berkaitan dengan teknologi dan informasi pada era globalisasi, dan secara khusus bertujuan sebagai persyaratan penilaian Program Pasca Sarjana dalam mata kuliah Teknologi Informasi Seni.





      Seni merupakan usaha manusia untuk menciptakan bentuk-bentuk yang menyenangkan, hal tersebut diungkapkan Herbert Read dalam The meaning of art 1959 (Kartika, 2004 : 2). Seni lukis adalah salah satu induk dari seni rupa. Dengan dasar pengertian yang sama, seni lukis adalah sebuah pengembangan yang lebih utuh dari drawing. Sejarah umum seni lukis zaman prasejarah secara historis, seni lukis sangat terkait dengan gambar. Sejak akhir dasawarsa 90-an, di Indonesia muncul bentuk kesenian (seni rupa) yang menggunakan media dan material non-konvensional sebagai medium berkaryanya. Kesenian tersebut semakin berkembang, terutama di wilayah-wilayah yang selama ini menjadi sentra perkembangan seni rupa di Indonesia seperti Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dan Bali. Bentuk kesenian ini kemudian dikenal dengan istilah “seni media baru” (new media art). New media art atau media baru, electronic art (Susanto,2011 : 277).
         Salah satu karakteristik bentuk kesenian “baru” ini adalah penggunaan teknologi serta media komunikasi dan informasi sebagai alat, medium dan sumber gagasan penciptaan berkarya seni. Beberapa varian dari kesenian yang tergolong dalam media baru tersebut diantaranya: seni internet (web art), video performance, seni video (video art), cellular art, dan lain sebagainya.
          Teknologi Informasi (TI), atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah Information technology (IT) adalah istilah umum yang menjelaskan teknologi apa pun yang membantu manusia dalam membuat, mengubah, menyimpan, mengomunikasikan dan/atau menyebarkan informasi. TI menyatukan komputasi dan komunikasi berkecepatan tinggi untuk data, suara, dan video. Contoh dari Teknologi Informasi bukan hanya berupa komputer pribadi, tetapi juga telepon, TV, peralatan rumah tangga elektronik, dan peranti genggam modern (misalnya ponsel).
        Pesatnya perkembangan teknologi memberi perubahan dan transformasi yang terus menerus pada pengucapan karya seni. Hal ini didorong oleh berkembanganya wacana apresiator seni, yang menggiring para seniman untuk terlibat beriringan dengan kemajuan teknologi, terutama di abad 19 dan 20.
         Pertengahan tahun 1960-an,  terjadi perubahan besar dalam kebudayaan dunia, ditandai dengan fenomena postmodernisme. Hal ini seiring dengan pergeseran arah perkembangan teknologi dari teknologi industri yang bersifat mesin dan material ke arah teknologi informasi yang membuka semua celah  dunia melalui informasi global yang interaktif, digital dan multimedia. Stanley J. Grenz yang banyak membahas pengaruh postmodernisme pada bidang seni memberi simbol pada transisi perubahan dari masyarakat industri ke masyarakat informasi ini. Simbolnya adalah komputer. Pergeseran besar dari teknologi industri ke teknologi informasi ini, juga membawa pengaruh kuat pada rata-rata pemahaman masyarakat, bahwa teknologi adalah elektronika. Selain keberadaan radio, televisi dan telpon yang membentuk pola hidup baru masyarakat dunia, didirikannya HP oleh William Hewlet dan David Packard bersamaan dengan diproduksinya komputer pertama dengan kode binner oleh Konrad Zuse tahun 1938, teknologi informasi mengawali eksistensinya, dan secara cepat terus berkembang hingga tahun 1975 dipasarkan Altair 8800, komputer pertama, diproduksi secara masal untuk masyarakat. Komputer lalu menjadi idola baru manusia abad ini.

Teknologi Informasi Sebagai Kreatifitas Dalam Karya Seni Lukis                                                        

        Sejak akhir dasawarsa 90-an, di Indonesia muncul bentuk kesenian (seni rupa) yang menggunakan media dan material non-konvensional sebagai medium berkaryanya. Kesenian tersebut semakin berkembang, terutama di wilayah-wilayah yang selama ini menjadi sentra perkembangan seni rupa di Indonesia seperti Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dan Bali.
     Bentuk kesenian ini kemudian dikenal dengan istilah “seni media baru” (new media art). Penggunaan istilah “media baru” terutama menunjuk kepada medium yang digunakan oleh para perupanya yang sangat berbeda dengan medium (konvensional) berkarya seni rupa pada periode sebelumnya yang lebih dulu dikenal seperti: penggunaan kain kanvas dan cat pada lukisan. Salah satu karakteristik bentuk kesenian “baru” ini adalah penggunaan teknologi serta media komunikasi dan informasi sebagai alat, medium dan sumber gagasan penciptaan berkarya seni.
     Beberapa varian dari kesenian yang tergolong dalam media baru tersebut diantaranya: seni internet (web art), video performance, seni video (video art), cellular art, dan lain sebagainya. Para perupa yang menggeluti jenis kesenian tersebut umumnya mahasiswa dan alumni perguruan tinggi seni rupa atau setidaknya pernah mengenyam pendidikan di sekolah tinggi seni rupa.
       Di dunia internasional bentuk kesenian dengan karakter pengunaan teknologi serta media komunikasi dan informasi ini telah diakui sebagai bagian dari perkembangan (disiplin ilmu) seni rupa. Jurusan atau program studi yang mengkhususkan pada bentuk kesenian ini telah didirikan di beberapa negara dan umumnya dengan menggunakan label multi-media art. Beberapa event internasional telah diselenggarakan dan diikuti juga oleh para perupa dari Indonesia. Keikutsertaan para perupa Indonesia ini bukan hanya sebagai pertisipan, tetapi telah mendapat pengakuan secara internasional.
       Sesuai dengan tuntutan perkembangan dunia seni rupa, fenomena jenis kesenian yang menggunakan teknologi komunikasi dan informasi sebagai basis kreatifnya perlu mendapat perhatian, bukan saja dikalangan seniman, tetapi juga di kalangan pendidikan, khususnya pendidikan seni rupa. Demikian pula jika melihat perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang tumbuh dengan pesat dipergunakan untuk mempercepat perkembangan berbagai bidang (disiplin) ilmu, maka tidak berlebihan apabila para pengembang kurikulum pendidikan seni rupa mencoba memasukan jenis kesenian ini dalam kurikulum pendidikannya. Seperti yang diterapakan pada program Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia Denpasar.
        Walaupun dengan mudah para pengembang kurikulum pendidikan seni di Indonesia dapat mengadopsi struktur kurikulum dari berbagai negara yang telah lebih dulu membuka Jurusan atau program studi ini, tetapi mengingat konteks budaya yang berbeda antara satu negara dengan negara lainya, beberapa hal yang berkaitan dengan aspek historikal, ideologi, karakteristik bentuk, estetika, medium serta pola belajar yang digunakan oleh para perupanya, harus diketahui dan dipahami dengan baik oleh para pengembang kurikulum pendidikan seni rupa. Pemahaman secara holistik membantu para pengembang kurikulum untuk membuat sebuah struktur kurikulum yang sesuai dengan konteks atau kultur budaya setempat

Hubungan Fotografi Dan Teknologi

            Fotografi secara umum baru dikenal sekitar 150 tahun lalu. Ini kalau kita membicarakan fotografi yang menyangkut teknologi. Namun, kalau kita membicarakan masalah gambar dua dimensi yang dihasilkan dari peran cahaya, sejarah fotografi sangatlah panjang. Dari yang bisa dicatat saja, setidaknya “fotografi” sudah tercatat sebelum Masehi. Dalam buku The History of Photography karya Alma Davenport, terbitan University of New Mexico Press tahun 1991, disebutkan bahwa pada abad ke-5 sebelum Masehi, seorang pria bernama Mo Ti sudah mengamati sebuah gejala. Apabila pada dinding ruangan yang gelap terdapat lubang, maka di bagian dalam ruang itu akan terefleksikan pemandangan di luar ruang secara terbalik lewat lubang tadi. Kemudian, pada abad ke-10 Masehi, seorang Arab bernama Ibn Al-Haitham menemukan fenomena yang sama pada tenda miliknya yang bolong. Hanya sebatas itu informasi yang masih bisa kita gali seputar sejarah awal fotografi karena keterbatasan catatan sejarah. Bisa dimaklumi, di masa lalu informasi tertulis adalah sesuatu yang amat jarang. Demikianlah, fotografi lalu tercatat dimulai resmi pada abad ke-19 dan lalu terpacu bersama kemajuan-kemajuan lain yang dilakukan manusia sejalan dengan kemajuan teknologi yang sedang gencar-gencarnya. Adalah tahun 1839 yang dicanangkan sebagai tahun awal fotografi. Pada tahun itu, di Perancis dinyatakan secara resmi bahwa fotografi adalah sebuah terobosan teknologi. Saat itu, rekaman dua dimensi seperti yang dilihat mata sudah bisa dibuat permanen.
      Penemu fotografi dengan pelat logam, Louis Jacques Mande Daguerre, sebenarnya ingin mematenkan temuannya itu. Tapi, Pemerintah Perancis, dengan dilandasi berbagai pemikiran politik, berpikir bahwa temuan itu sebaiknya dibagikan ke seluruh dunia secara cuma-cuma. Maka, saat itu manual asli Daguerre lalu menyebar ke seluruh dunia walau diterima dengan setengah hati akibat rumitnya kerja yang harus dilakukan. Meskipun tahun 1839 secara resmi dicanangkan sebagai tahun awal fotografi, yaitu fotografi resmi diakui sebagai sebuah teknologi temuan yang baru, sebenarnya foto-foto telah tercipta beberapa tahun sebelumnya. Sebenarnya, temuan Daguerre bukanlah murni temuannya sendiri. Seorang peneliti Perancis lain, Joseph Nicephore Niepce, pada tahun 1826 sudah menghasilkan sebuah foto yang kemudian dikenal sebagai foto pertama dalam sejarah manusia. Foto yang berjudul View from Window at Gras itu kini disimpan di University of Texas di Austin, AS. Niepce membuat foto dengan melapisi pelat logam dengan sebuah senyawa buatannya. Pelat logam itu lalu disinari dalam kamera obscura sampai beberapa jam sampai tercipta imaji. Metode Niepce ini sulit diterima orang karena lama penyinaran dengan kamera obscura bisa sampai tiga hari. Pada tahun 1827, Daguerre mendekati Niepce untuk menyempurnakan temuan itu. Dua tahun kemudian, Daguerre dan Niepce resmi bekerja sama mengembangkan temuan yang lalu disebut heliografi. Dalam bahasa Yunani, helios adalah matahari dan graphos adalah menulis. Karena Niepce meninggal pada tahun 1833, Daguerre kemudian bekerja sendiri sampai enam tahun kemudian hasil kerjanya itu diumumkan ke seluruh dunia.
        Kemajuan teknologi memang memacu fotografi secara sangat cepat. Kalau dulu kamera sebesar mesin jahit hanya bisa menghasilkan gambar yang tidak terlalu tajam, kini kamera digital yang cuma sebesar dompet mampu membuat foto yang sangat tajam dalam ukuran sebesar koran. Temuan teknologi makin maju sejalan dengan masuknya fotografi ke dunia jurnalistik. Karena belum bisa membawa foto ke dalam proses cetak, surat kabar mula-mula menyalin foto ke dalam gambar tangan. Dan surat kabar pertama yang memuat gambar sebagai berita adalah The Daily Graphic pada 16 April 1877. Gambar berita pertama dalam surat kabar itu adalah sebuah peristiwa kebakaran. Kemudian, ditemukanlah proses cetak half tone pada tahun 1880 yang memungkinkan foto dibawa ke dalam surat kabar. Foto pertama di surat kabar adalah foto tambang pengeboran minyak Shantytown yang muncul di surat kabar New York Daily Graphic di Amerika Serikat tanggal 4 Maret 1880. Foto itu adalah karya Henry J Newton. Banyak cabang kemajuan fotografi yang terjadi, tetapi banyak yang mati di tengah jalan. Foto Polaroid yang ditemukan Edwin Land, umpamanya, pasti sudah tidak dilirik orang lagi karena kini foto digital juga sudah nyaris langsung jadi. Juga temuan seperti format film APSS (tahun 1996) yang langsung mati suri karena teknologi digital langsung masuk menggeser semuanya.
      Kesimpulannya fotografi tidak bisa dilepaskan dari teknologi karena fotografi tersebut merupakan sebuah penemuan teknologi. Seiring dengan berkembangnya zaman, fotografi dibuat lebih mudah dan efisien dalam pengambilan gambarnya maupun cetaknya.